Welcome To this Blog

Tuesday, March 27, 2012

Kematian Ibu dan Kakek Nabi Muhammad SAW


Sesudah berusia lima tahun, Muhammad SAW diantarkan ke Mekah kembali kepada ibunya, Sitti Aminah. Setahun kemudian, yaitu sesudah ia berusia kira-kira enam tahun beliau dibawa oleh ibunya ke Madinah bersama-sama dngan Ummu Aiman, sahaya peninggalan ayahnya. Maksud membawa nabi ke madinah, pertama untuk memperkenalkan ia kepada keluarga kakeknya Bani Najjar dan kedua untuk menziarahi makam ayahnya. Maka disitu diperlihatkan kepadanya rumah tempat ayahnya dirawat diwaktu sakit sampai meninggal dan pusara tempat ayahnya dimakamkan. Agak mengharukan juga cerita Aminah kepada anaknya tentang ayahnya itu. Demikian harunya sampai sesudah ia diangkat menjadi Rasul dan sesudah ia berhijrah ke madinah, peristiwa itu sering disebut-sebutnya.

Mereka tinggal disitu kira-kira satu bulan, kemudian pulang kembali ke Mekah. Dalam perjalanan mereka pulang, pada suatu tempat, Abwa’ namanya , tiba-tiba aminah jatuh sakit sehingga meninggal dan dimakamkan disitu juga. (Abwa’ ialah nama sebuah desa yang terletak antara madinah dan juhfah kira-kira sejauh 23 mil disebelah selatan kota madinah).

Dapatlah dibayangkan betapa sedih dan bingungnya Muhammad SAW menghadapi bencana kemalangan atas kematian ibunya itu. Baru beberapa hari saja ia mendengar cerita ibunya atas kematian ayahnya yang telah meninggalkannya selagi Muhammad SAW dalam kandungan, sekarang ibunya telah meninggal pula dihadapan matanya sendiri, sehingga ia sudah tinggal sebatang kara menjadi seorang yatim piatu, tiada berayah dan tiada beribu.

Setelah selesai pemakaman ibundanya, Nabi Muhammad SAW segera meninggalkan kampung Abwa’ itu kembali ke mekah dan tinggal bersama-sama dengan kakeknya Abdul Muththalib.

Disinilah Nabi Muhammad SAW diasuh sendiri oleh kakeknya dengan penuh kecintaan. Usia abdul muththalib pada waktu itu mendekati 80 tahun. Dia adalah seorang pemuka quraisy yang disegani dan dihormati oleh segenap kaum quraisy pada umumnya dan penduduk kota  mekah pada khususnya. Demikian penghormatan bagi kedudukannya yang tinggi dan mulia itu, sampai anak-anaknya sendiri tidak ada yang berani mendahului menduduki tikar yang disediakan khusus baginya di sisi Ka’bah.

Disebabkan kasih sayang kakeknya, Muhammad SAW dapat hiburan dan dapat melupakan kemalangan nasibnya karena kematian ibunya. Tetapi keadaan ini tidak lama berjalan sebab baru saja berselang dua tahun ia merasa terhibur dibawah asuhan kakeknya, orangtua yang baik itu meninggal pula dalam usia 80 tahun, Muhammad SAW pada waktu itu baru berusia 8 tahun.

Meninggalnya Abdul Muththalib itu bukan saja merupakan kemalangan besar bagi Muhammad SAW, tetapi juga merupakan kemalangan dan kerugian bagi segenap penduduk mekah. Dengan meninggalnya Abdul Muththalib itu, penduduk mekah kehilangan seorang pembesar dan pemimpin yang cerdas, bijaksana, berani dan perwira yang tidak mudah mencari gantinya.

Sesuai dengan wasiat Abdul Muththalib, maka Nabi Muhammad SAW diasuh oleh pamannya Abu Thalib. Kesunggguhan dia mengasuh nabi serta kasih sayang yang dicurahkan kepada keponakannya ini tidaklah kurang dari apa yang diberikannya kepada anaknya sendiri. Selama dalam asuhan kakeknya dan pamannya, Nabi Muhammad SAW menunjukkan sikap yang terpuji dan selalu membantu meringankan kehidupan mereka.


 Sumber    :: Al-Qur'an & Terjemahnya
 wrote by  :: Siti Nurbaya




No comments:

Post a Comment