Dalam tradisi keluarga terhormat Arab masa itu, bayi tidak disusui sendiri oleh
Sang Ibu. Ia diserahkan pada orang lain yang menjadi Ibu susu. Demikian pula
Muhammad. Beberapa hari, ia disusui oleh Tsuaiba -budak paman Muhammad, Abu
Lahab, yang juga tengah menyusui Hamzah -paman lainnya yang seusia Muhammad.
Kemudian ia diserahkan pada Halimah, perempuan miskin dari Bani Saad yang
mencari pekerjaan sebagai Ibu susu.
Semula Halimah menolak Muhammad. Ia
menginginkan bayi yang bukan seorang yatim, dan keluarganya sanggup membayar
lebih mahal. Tak ada bayi lain yang bisa disusui, Halimah pun membawa Muhammad
ke kampungnya. Suasana perkampungan Bani Saad disebut lebih baik bagi
pertumbuhan anak dibanding 'kota' Mekah. Udara di sana disebut lebih bersih,
bahasa Arab-nya pun lebih asli. Di masa bersama Halimah itulah tersiar kisah
mengenai Muhammad kecil.
Welcome To this Blog
Sunday, January 13, 2013
Dari Gembala ke Manajer
Menjelang Kelahiran
Muhammad adalah keturunan Nabi Ismail -nabi dengan 12 putra yang menjadi cikal
bakal bangsa Arab. Para nenek moyang Muhammad adalah penjaga Baitullah sekaligus
pemimpin masyarakat di Mekah, tempat yang menjadi tujuan bangsa Arab dari
berbagai penjuru untuk berziarah setahun sekali. Tradisi ziarah yang sekarang,
di masa Islam, menjadi ibadah haji. Salah seorang yang menonjol adalah Qusay
yang hidup sekitar abad kelima Masehi.
Tugas Qusay sebagai penjaga ka'bah adalah memegang kunci ('hijabah'), mengangkat panglima perang dengan memberikan bendera simbol yang dipegangnya ('liwa'), menerima tamu ('wifadah') serta menyediakan minum bagi para peziarah ('siqayah').
Ketika lanjut usia, Qusay menyerahkan mandat terhormat itu pada pada anak tertuanya, Abdud-Dar. Namun anak keduanya, Abdul Manaf, lebih disegani warga. Anak Abdul Manaf adalah Muthalib, serta si kembar siam Hasyim dan Abdu Syam yang harus dipisah dengan pisau. Darah tumpah saat pemisahan mereka, diyakini orang Arab sebagai pertanda keturunan mereka bakal berseteru.
Tugas Qusay sebagai penjaga ka'bah adalah memegang kunci ('hijabah'), mengangkat panglima perang dengan memberikan bendera simbol yang dipegangnya ('liwa'), menerima tamu ('wifadah') serta menyediakan minum bagi para peziarah ('siqayah').
Ketika lanjut usia, Qusay menyerahkan mandat terhormat itu pada pada anak tertuanya, Abdud-Dar. Namun anak keduanya, Abdul Manaf, lebih disegani warga. Anak Abdul Manaf adalah Muthalib, serta si kembar siam Hasyim dan Abdu Syam yang harus dipisah dengan pisau. Darah tumpah saat pemisahan mereka, diyakini orang Arab sebagai pertanda keturunan mereka bakal berseteru.
Subscribe to:
Comments (Atom)